http://www.wayanardhana.staff.ugm.ac.id

 


 

 

Klik Topik di bawah ini

Home
Tentang Kami
Staf Kami
Pelayanan Kami
Alat Ortodontik
Perawatan Ortodontik
Kasus Ortodontik
Kontak Pasien
Kontak Sejawat
Tip Profesi
Kontak Mahasiswa
Publikasi Ilmiah
Intermezzo
Galeri Foto
Yang baru hari ini
 

 


 

Berita dan Opini
 

Jogja grafiti
Problem sosial

Baliku cantik
Baliku,........oh,
Bali....sekali lagi

 

 

 

Web Link

 

UGM
FKG UGM

FKG-UGM  (new web)
OrtodonsiaFKG UGM
DentisiaFKG UGM

DentisiaFORUM
Web UGM
E-lisaUGM
Wikipedia

Website Teman
Sejawat :

drg. Cendrawasih AF.
drg. Ika Dewi Ana Phd.

Bali..............., sekali lagi aku sebagai orang Bali 
 
     Sekali lagi aku terperangah dengan keunikan adat istiadat Bali,  khususnnya adat istiadat di kampungku. Aku ceritera lagi tentang apa yang aku alami tentang Bali. Mudah-mudahan tidak bosan membacanya.................
 


Hari Rabu tanggal 10 September 2008, jam 7.30 pagi, sepulang aku mengantar anak ke sekolah, aku menerima telepon dari adik ibu di Bali yang mengabarkan Bapak telah meninggal dunia tadi jam 7.00 WIT. Aku tidak menyangka bapak telah tiada, walau aku menyadari umur bapak 85 tahun, sudah cukup tua untuk tertap hidup, karena selama ini bapak hanya bisa tidur dilayani ibu yang juga sudah tua 78 tahun. Aku ikhlas bapak pergi semoga diterima disisiNya.
Dari pembicaraan ditelepon aku belum mendapat informasi bagaimana rencana prosesi selanjutnya, karena aku sebagai anak satu-satunya harus segera pulang untuk menentukan apa yang akan dilakukan. Malam harinya aku pulang sendiri tanpa dengan keluarga memakai pesawat Mandala, sampai dirumah tengah malam kudapati adik-adik sepupuku tidur di lantai rumah didepan kamar pembaringan menjaga bapak yang sudah meninggal.

 

Balai dangin  tempat pembaringan jazad bapak setelah selama empat hari dianggap belum meninggal



  Malam yang sangat hening  membikin suasana hati lain dari biasanya, tak ada rasa takut, tampak bapakku seperti tidur, seperti tidak meninggal, hanya kaku dengan wajahnya yang tampak tua.  Suatu hal yang tidak seperti biasanya aku lihat kenapa bapak masih ditidurkan di kamar, tidak di tempat kan di
bale dangin.(Bale dangin adalah suatu balai yang dibangun di tengah-tengah pekarangan berfungsi untuk tempat penyelenggaraan kegiatan upacara adat termasuk pembaringan anggota keluarga yang meninggal untuk mendapatkan upacara)

Dari adik sepupuku aku mendapat penjelasan bahwa:
bullet

Bapak meninggal tepat pada saat ada upacara di pura setra (tempat kuburan) yang diselenggarakan oleh masayarakat kampung saya. Upacara berlansung selama 4 hari, jadi selama itu meninggalnya bapak tidak boleh diumumkan di masyarakat banjar, supaya tidak membatalkan upacara. Jadi selama itu bapat dianggap belum meninggal, masih tidur dikamar dan tidak dipindah ke balai dangin.

bullet

Untuk menghindari pembusukan, bapak di infus formalin, kelihatannya seperti orang tidur, tapi kaku, kulit kesat tanpa ada bau sama sekali.

bullet

Selama empat hari empat malam kami sekeluarga menjaga bapak, tanpa dikunjungi saudara-saudara maupun masyarakat kampung karena mereka tidak boleh datang ketempat orang meninggal karena sedang menyelenggarakan upacra di pura.

bullet

Setelah hari ke lima saya bersama pak lik, menghadap ketua banjar untuk mengumumkan meinggalnya bapak ke anggota masyarakat serta meminta hari pelaksanaan upacaranya pada pendeta dan bendesa (ketua adat)

bullet

Kami sekeluaga sepakat akan menyelesaikan upacara untuk bapak sampai tuntas dengan pembakaran (ngaben) dan nganyut kelaut , karena  saya tinggal  di Jawa sangat sulit untuk bolak balik menyelenggarakan upacara secara bertahap-tahap.

bullet

Di ketua banjar tidak ada masalah anggota banjar siap turun besok harinya, Pendeta yang akan menjalankan upacara siap hanya karena pada saat itu juga bertepatan dengan masih berlangsungnya hari raya Galungan-Kuningan, upacara yang bisa dilakukan hanya mekingsan digeni (yaitu upaca pembakaran tanpa upacara penganyutan. Dikemudian hari harus diupacarakan kembali sampai tuntas). Di Bendesa ketua adat berbeda lagi pemdapatnya, mekingsan digeni tidak bisa dilakukan, harus dikubur, dikuburpun statusnya nyulubin (yaitu penguburan tanpa upacara penenguburan sedangkan upacara penguburan baru boleh dilaksanakan tujuh hari lagi setelah berakhirnya hari raya Galungan-Kuningan) Upacara Ngaben (pembakaran dan penganyutan) baru boleh dilaksantah 2 tahun lagi.

bullet

Wah-wah, di Bali ini mau meninggal saja sulitnya bukan kepalang, apakah saya harus bolos tidak ke ke kantor sampai 3 minggu? rasanya tidak mungkin. Saya putuskan untuk balik ke Jogja karena saya sudah bolos selama satu minggu.

 

Warga banjar datang menyambang

 Saat upacara pemandian


  Satu lagi keunikan adat istiadat Bali, membikin hidup ini  menjadi tidak praktis:

bullet

Orang meninggal harus dianggap masih tidur belum meninggal. masyarakat harus pura-pura tidak dengar.

bullet

Rencana pembakaran (kremasi) tidak bisa dilakukan, tapi yang akan dilakukan hanya pura-pura belum dibakar (tapi senyatanya akan dibakar) sampai hari tertentu yang di perbolehkan untuk upacaranya. Ini pun tidak jadi dilaksanakan akibat perbedaan pendapat antara ketua banjar, pendeta dan bendesa. Kemudian diputuskan untuk dikubur.

bullet

Acara penguburanpun tidak bisa dilakukan, dianggap belum dikubur (walau senyatanya memang dikubur) sampai hari tertentu baru boleh dilaksankan upacara penguburannya.

 

Kembali kebalai untuk memberi kesempatan sanak saudara memberikan penghormatan


Apakah ini suatu keunikan atau keanehan yang membikin masyarakat menjadi puyeng untuk melaksankannya. Inipun dirasakan hampir oleh setiap orang yang pernah saya mintakan pendapatnya. Rata-rata mereka menganggap adat-istidat ini banyak membikin hidup orang menjadi sulit dan tidak praktis. Nyatanya beberapa daerah yang lebih maju sudah ada yang meninggal kan adat istiadat yang tidak praktis ini.

Suatu keunikan adat yang mengagumkan untuk menjadi tontonan para touris tetapi sangat menyulitkan kehidupan masyarakat Bali untuk melaksanakannya,  terutama mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri, bank, atau perusahan suasta. Instansi mana yang mengijinkan jika stafnya minta bolos berturut-turut selama 3 minggu tidak kerja untuk menyelenggarakan kegiatan adat tersebut?.

 

Berangkat ke kuburan, dihantar sanak saudara dan masyarakat kampung


Seharusnya forum parisada Hindu Dharma sudah melakukan pembaharuan-pembaharuan terhadap adat istiadat yang mungkin hanya cocok untuk dilaksanakan pada zaman agraris dulu dimana setiap orang bekerja tidak terikat oleh waktu dinas yang ketat seperti sekarang ini. Ataukah kita harus tetap hidup dengan tatacara hidup dizaman  dulu itu demi hanya kebanggan terhadap adat istiadat yang katanya dikagumi oleh orang mancanegara. Apakah mereka justru sebenarnya merasa heran melihat ketidak rasionalan masayrakat Bali dalam menjalankan hidupnya ???.

Hanya keluhan dan guman yang bisa dilakukan

 

Peristirahatan terakhir, tapi dianggap belum dikubur.

Aku, ibuku dan keluargaku,
Selamat jalan Bapak

 

Topik lain :  Baliku cantik Bali....sekali lagi Jogja graffiti,    Jogja problem sosial  

     
     

 | Home | Tentang Kami | Staf Kami | Pelayanan Kami | Alat Ortodontik | Kasus Ortodontik | Perawatan Ortodontik |
 
| KontakPasien | Kontak Sejawat |Tip Profesi
|  Kontak Mahasiswa | Publikasi Ilmiah  | Intermezzo  | Galeri Foto |
|
Berita dan Opini  I Yang baru hari ini |

 

 

 

Copyright  YAO Ortholab.com 2014